SOLUSI ATASI KEMACETAN : TEKNOLOGI CORRUGATED MORTAR BUSA PUSJATAN

Tata ruang perkotaan terutama di Jakarta di nilai tidak teratur, hal tersebut dapat dilihat dari titik macet yang setiap harinya terjadi seperti di persimpangan jalan dan perlintasan kereta api. Sudah saatnya Pemerintah mencari solusi untuk memperbaiki tata kota sekaligus mengurangi kemacetan khususnya di perkotaan seperti ibukota Jakarta.

Tata ruang perkotaan terutama di Jakarta di nilai tidak teratur, hal tersebut dapat dilihat dari titik macet yang setiap harinya terjadi seperti di persimpangan jalan dan perlintasan kereta api. Sudah saatnya Pemerintah mencari solusi untuk memperbaiki tata kota sekaligus mengurangi kemacetan khususnya di perkotaan seperti ibukota Jakarta.

Salah satu solusi yang sedang dikembangkan Kementerian PUPR yaitu yaitu teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP). Teknologi infrastruktur ini merupakan teknologi andalan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di perkotaan, dan merupakan pengembangan teknologi Corrugated Sheel Arch, yang memiliki banyak kelebihan di bandingkan dengan flyover menggunakan konstruksi konvensional.?CMP juga murah dan ramah lingkungan.

“Penerapan teknologi sudah waktunya dilaksanakan. Ditjen Bina Konstruksi siap membantu menyebarluaskan teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP), apabila perlu kami siap mengadakan Bimtek/Pelatihan untuk teknologi ini”. ungkap Panani Kesai, Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi dalam acara Seminar Nasional Penerapan Teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP) dan Sosialisasi Konstruksi Berkelanjutan, Kamis (04/08) di Jakarta.

Keunggulan dari teknologi ini diantaranya dapat menghemat dana hingga 60% – 70% dan dapat menghemat waktu pengerjaan hingga 50% jika dibandingkan dengan konstruksi konvensional serta ramah lingkungan karena menggunakan lebih sedikit material konstruksi terutama bahan alam.?

Ditjen Bina Konstruksi akan bersinergi dengan mitra kerja yang ada dalam penerapan teknologi ini seperti Balitbang, Ditjen Bina Marga, BPSDM, BPIW, dan Ditjen-Ditjen lainnya. Serta asosiasi profesi, asosiasi perusahaan, industri penguruan tinggi, Kemendikbud, Kemenristekdikti, dan mitra kerja lainnya untuk menunjang pembangunan menuju kemakmuran Indonesia.?

?”Jadi yang dibina oleh DJBK dalam penerapan teknologi adalah industrinya. Pembinaan kebijakan penerapan teknologi ada pada Direktorat Bina Penyelengaraan Jasa Konstruksi, sedangkan penerapannya ada pada Balai Penerapan Teknologi Konstruksi. Balai inilah yang ditugaskan untuk mengolah pengetahuan/knowledge penerapan teknologi konstruksi”. Jelas Panani?

Ia menambahkan Kedepannya di harapan dengan adanya seminar nasional jembatan CMP ini memberikan pengetahuan tentang perencanaan dan pelaksanaan pembuatan infrastruktur jembatan murah agar anggaran yang ada dapat digunakan lebih efisien dan tepat sasaran. ?(dri/tw)

SEBARKAN ARTIKEL INI!