
DJBK – Direktorat Jenderal Bina Konstruksi terus mendorong penguatan tata kelola kinerja dan anggaran yang tertib, akuntabel, serta berorientasi hasil guna menjawab dinamika kebijakan nasional dan tuntutan prioritas pembangunan. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Bina Konstruksi, Boby Ali Azhari, dalam kegiatan Persiapan Pelaksanaan Anggaran Tahun 2026 dan Validasi Capaian Kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Tahun Anggaran 2025 pada Senin (22/12) di Bogor.
Dalam sambutannya, Dirjen Bina Konstruksi yang disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Riky Aditya Nazir menekankan pentingnya kesiapan aparatur sebagai faktor penentu keberhasilan pencapaian kinerja organisasi. Kapasitas, ketangguhan, dan kondisi psikologis sumber daya manusia (SDM) menjadi aspek yang tidak terpisahkan dalam menjaga kinerja organisasi secara berkelanjutan.
“Sebagai ASN di Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, kita dituntut untuk sigap, adaptif, dan memiliki performa tinggi. Oleh karena itu, fondasi psikologis berupa resiliensi dan well-being menjadi sangat penting agar mampu menghadapi tekanan dan tantangan tugas,” Jelas Sesditjen Bina Konstruksi Riky Aditya Nazir
Sebagai salah satu upaya penguatan SDM, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi memperkenalkan pendekatan inovatif melalui metode Brain Assessment berbasis Quantitative Electroencephalography (QEEG). Metode ini diharapkan dapat membantu pegawai memahami kondisi fungsi otak secara objektif, sehingga mampu mengoptimalkan kinerja kognitif dalam pelaksanaan tugas. Menurut Dr. Eka Musdridharta Spesialis neurologi, Brain assessment berbasis Quantitative Electroencephalography (QEEG), dimana alat ini digunakan untuk mencatat aktivitas gelombang otak selama kurun waktu tertentu atau disebut juga Brain mapping, yang dapat memberikan data komperhensif tentang gelombang otak dan memberikan analisa yang tepat dari data mentah yang diberikan EEG.
Penajaman perencanaan, peningkatan kualitas penganggaran, serta penguatan akuntabilitas kinerja menjadi fondasi utama agar setiap program dan kegiatan mampu memberikan hasil serta dampak yang optimal. Selain itu, program pembinaan jasa konstruksi diharapkan semakin responsif terhadap masukan para pemangku kepentingan, termasuk dalam penguatan pelatihan vokasi dan pengembangan tenaga kerja konstruksi strategis.
Pada kesempatan yang sama seluruh pegawai Direktorat Jenderal Bina Konstruksi mendapatkan motivasi dan penguatan kinerja serta mencegah mental block para pegawai dari Pakar Pengembangan Human Capital Stefvy Pattikawa menyampaikan kondisi mental health dari para pegawai. “Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang terlibat dalam komunikasi.” Jelas Stefvy
Kedepannya, tantangan organisasi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi semakin kompleks dan dinamis, mulai dari perubahan kebijakan, tuntutan efektivitas program, hingga kebutuhan pemangku kepentingan yang terus berkembang. Kondisi ini menuntut kinerja organisasi yang adaptif, responsif, dan profesional, serta pemanfaatan sumber daya yang mampu memberikan nilai tambah bagi pencapaian tujuan pembangunan.
Melalui kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan responsivitas terhadap masukan pemangku kepentingan, penguatan kinerja berbasis hasil, peningkatan akuntabilitas dan sinergi antar unit kerja, serta keterbukaan terhadap inovasi. Ia juga mengajak seluruh pegawai menjadikan hasil asesmen sebagai panduan untuk memperbaiki pola hidup, pola kerja, dan pola pikir.(dri)



