Ditjen Bina Konstruksi Gelar Sharing Session Lean Construction bersama IAMKRI

Jakarta – Direktorat Jenderal Bina Konstruksi bersama Ikatan Ahli Manajemen Konstruksi Ramping Indonesia (IAMKRI) mengadakan Sharing Session bertema “Lean is More: Lean Construction Toward Sustainable Public Infrastructure” pada Jumat (29/8) di Kampus Kementerian PU, Jakarta.

Pembangunan infrastruktur yang masif saat ini juga menghasilkan limbah konstruksi dalam jumlah besar. Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Ditjen Bina Konstruksi terus mendorong penyelenggaraan konstruksi yang berkualitas dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut dapat diwujudkan salah satunya melalui penerapan Lean Construction, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri PUPR Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan, yang mengamanatkan pelaksanaan konstruksi secara terpadu, efisien, dan ramah lingkungan.

“Konsep konstruksi ramping (Lean Construction) dan berkelanjutan (sustainability) memiliki hubungan yang saling memperkuat, karena keduanya berfokus pada efisiensi, penciptaan nilai, serta pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujar Direktur Jenderal Bina Konstruksi, Boby Ali Azhari, dalam kegiatan tersebut.

Lebih lanjut, Boby menekankan bahwa integrasi Lean Construction dengan program pemerintah terkait bangunan gedung hijau, digitalisasi konstruksi, serta agenda pembangunan berkelanjutan dapat mendorong industri konstruksi Indonesia menjadi lebih maju dan kompetitif di kancah global.

Lean Construction bukan sekadar metode efisiensi, melainkan sebuah filosofi, cara pandang baru untuk menciptakan nilai, mengurangi pemborosan, dan membangun infrastruktur yang tangguh serta berkelanjutan,” tambahnya.

Ketua IAMKRI, Muhammad Abduh, menjelaskan bahwa konsep Lean Construction adalah meminimalkan limbah dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Metode ini berfokus pada peningkatan efisiensi, kualitas, dan produktivitas di seluruh siklus hidup proyek, mulai dari desain, pembangunan, pemeliharaan, hingga daur ulang, melalui kolaborasi dan perbaikan berkelanjutan di antara seluruh pihak terkait.

Sementara itu, perwakilan PT MRT Jakarta, Dewi, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerapkan metode Lean Construction pada pembangunan MRT Jakarta Fase 1 (Bundaran HI–Lebak Bulus).

“Pada pekerjaan Fase 2 yang saat ini berjalan, PT MRT Jakarta juga menerapkan metode Lean Construction. Bahkan, metode ini menjadi salah satu persyaratan dalam proses tender. Dengan begitu, para kontraktor diharapkan semakin menyadari pentingnya konstruksi berkelanjutan,” ungkapnya.

Melalui kegiatan Sharing Session ini, peserta diharapkan dapat memahami filosofi Lean Construction serta mampu mengaplikasikannya dalam proyek-proyek konstruksi. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur dapat dilaksanakan secara lebih efisien, berkualitas, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat jejaring dan kolaborasi antar-stakeholder konstruksi di Indonesia.

SEBARKAN ARTIKEL INI!